Table of Contents
▼- Memahami Dasar-Dasar Deployment Laravel
- Mengenal cPanel dan Plesk: Sahabat Developer Anda
- Langkah-Langkah Deploy Laravel di cPanel
- Langkah-Langkah Deploy Laravel di Plesk
- Membandingkan cPanel vs Plesk untuk Deployment Laravel
- Tips Tambahan untuk Deployment Laravel yang Sukses
- Kesimpulan
- FAQ Seputar Deployment Laravel
Apakah Anda baru saja selesai membangun sebuah aplikasi web yang canggih menggunakan Laravel dan siap untuk meluncurkannya ke publik? Proses membawa aplikasi dari lingkungan pengembangan lokal ke server live, yang dikenal sebagai deployment, bisa menjadi langkah krusial yang terkadang membingungkan. Memilih platform yang tepat untuk mengelola hosting Anda juga sama pentingnya, karena akan sangat memengaruhi kemudahan dan efektivitas proses ini.
Bagi para developer, terutama yang bekerja dengan framework populer seperti Laravel, memahami cara melakukan deployment ke berbagai jenis control panel hosting adalah keterampilan yang esensial. Dua di antaranya yang paling sering ditemui adalah cPanel dan Plesk. Artikel ini akan membimbing Anda langkah demi langkah untuk melakukan deploy aplikasi Laravel Anda dengan mudah menggunakan kedua platform populer ini, memastikan website Anda siap diakses oleh dunia.
Memahami Dasar-Dasar Deployment Laravel
Sebelum kita menyelami teknis deployment, mari kita pahami terlebih dahulu apa itu deployment dan mengapa proses ini sangat penting.
Apa Itu Deployment?
Deployment adalah proses memindahkan kode aplikasi yang telah selesai dikembangkan dari lingkungan lokal (komputer Anda) ke server hosting. Tujuannya adalah agar aplikasi tersebut dapat diakses secara online oleh pengguna melalui internet. Tanpa deployment, aplikasi Anda hanya akan bisa diakses oleh Anda sendiri di komputer Anda.
Mengapa Deployment Laravel Penting?
Setiap website atau aplikasi yang ingin menjangkau audiens yang lebih luas haruslah dapat diakses secara online. Deployment memastikan aplikasi Laravel Anda:
- Dapat diakses kapan saja oleh pengguna dari mana saja.
- Berjalan pada lingkungan server yang stabil dan terkelola.
- Menjadi bagian dari ekosistem digital yang lebih besar.
Memilih cara yang tepat untuk melakukan deployment, terutama menggunakan control panel yang efisien, akan menghemat banyak waktu dan meminimalkan potensi kesalahan.
Mengenal cPanel dan Plesk: Sahabat Developer Anda
cPanel dan Plesk adalah dua platform control panel hosting yang paling populer dan banyak digunakan. Keduanya menyediakan antarmuka grafis yang memudahkan pengelolaan berbagai aspek hosting website tanpa perlu berinteraksi langsung dengan baris perintah server secara mendalam.
Apa Itu cPanel?
cPanel adalah sebuah panel kontrol hosting berbasis Linux yang sangat populer. Dikenal dengan antarmukanya yang intuitif dan kaya fitur, cPanel memungkinkan pengguna untuk mengelola domain, email, database, file website, dan berbagai pengaturan server lainnya dengan mudah.
Apa Itu Plesk?
Plesk adalah platform kontrol hosting lain yang menawarkan fungsionalitas serupa dengan cPanel, namun dengan fokus yang sedikit berbeda dan seringkali dianggap memiliki antarmuka yang lebih modern. Plesk mendukung berbagai sistem operasi, termasuk Linux dan Windows, dan menawarkan fitur manajemen yang terintegrasi untuk website, aplikasi, dan server.
Kelebihan Menggunakan cPanel dan Plesk untuk Deployment
Mengapa cPanel dan Plesk menjadi pilihan utama banyak penyedia hosting dan developer? Berikut beberapa keunggulannya:
- Kemudahan Penggunaan: Antarmuka grafis yang user-friendly membuat navigasi dan pengelolaan menjadi lebih sederhana, bahkan bagi pemula.
- Manajemen File yang Efisien: Keduanya dilengkapi dengan File Manager yang memungkinkan unggah, unduh, edit, dan manajemen file website secara langsung.
- Manajemen Database: Alat seperti phpMyAdmin (di cPanel) atau fitur manajemen database terintegrasi (di Plesk) mempermudah pembuatan dan pengelolaan database MySQL atau PostgreSQL.
- Pengelolaan Domain dan Subdomain: Menambahkan domain, subdomain, dan mengarahkan lalu lintas menjadi lebih mudah.
- Keamanan Terintegrasi: Fitur seperti SSL/TLS management, firewall, dan backup dapat dikelola dari panel.
- Akses yang Disederhanakan: Akses ke akun hosting biasanya diberikan melalui URL spesifik yang mengarah ke dashboard cPanel atau Plesk.
Langkah-Langkah Deploy Laravel di cPanel
Proses deployment Laravel ke cPanel melibatkan beberapa tahapan kunci. Meskipun langkah-langkah spesifik dapat sedikit bervariasi tergantung pada konfigurasi server hosting Anda, prinsip dasarnya tetap sama.
1. Akses cPanel Hosting Anda
Pertama, Anda perlu login ke akun cPanel yang disediakan oleh penyedia hosting Anda. Biasanya, Anda akan mendapatkan URL login, username, dan password melalui email konfirmasi setelah membeli paket hosting. Jika Anda menggunakan layanan hosting dari penyedia yang terintegrasi dengan dashboard khusus, Anda mungkin perlu mengakses cPanel melalui dashboard tersebut.
2. Navigasi ke File Manager
Setelah berhasil login, cari bagian "Files" atau "File Management" di dashboard cPanel Anda. Klik pada opsi "File Manager" untuk membuka pengelola file. Ini adalah alat yang akan Anda gunakan untuk mengunggah semua file aplikasi Laravel Anda.
3. Persiapan dan Unggah File Laravel
Sebelum mengunggah, pastikan Anda telah mempersiapkan kode Laravel Anda. Beberapa developer memilih untuk mengunggah seluruh folder proyek Laravel ke server. Namun, praktik yang lebih umum dan disarankan untuk deployment adalah mengunggah semua file dan folder Laravel, *kecuali* folder `public` yang akan ditempatkan di direktori root website Anda.
Struktur yang umum adalah:
- File dan folder Laravel lainnya (termasuk `app`, `config`, `routes`, `vendor`, dll.) diunggah ke sebuah direktori di luar `public_html` (misalnya, sebuah folder bernama `laravel_app` di direktori home Anda).
- Isi dari folder `public` Laravel (yaitu `index.php` dan aset seperti CSS, JS, gambar di dalam folder `public/assets`) ditempatkan langsung di dalam `public_html` atau direktori domain utama/subdomain Anda.
Untuk mengunggah:
- Di File Manager, navigasikan ke direktori tujuan Anda.
- Klik tombol "Upload" dan pilih file zip dari proyek Laravel Anda yang sudah dikompres (pastikan folder `public` diekstrak sebelum dikompres menjadi zip).
- Setelah file terunggah, ekstrak file zip tersebut di lokasi yang tepat.
- Pindahkan semua file dan folder Laravel (kecuali folder `public`) ke direktori yang Anda inginkan (misalnya, direktori home Anda atau folder khusus).
- Pindahkan isi dari folder `public` Laravel ke direktori `public_html` domain Anda.
4. Konfigurasi Database
Aplikasi Laravel biasanya membutuhkan database. Anda perlu membuat database baru di cPanel dan mengonfigurasi aplikasi Laravel Anda untuk terhubung dengannya.
- Di cPanel, cari bagian "Databases" dan klik "MySQL Databases".
- Buat database baru, pengguna database baru, dan berikan hak akses yang sesuai kepada pengguna tersebut untuk database yang baru dibuat. Catat nama database, username, dan password.
- Temukan file `.env` di root direktori aplikasi Laravel Anda (jika tidak ada, salin dan ubah nama file `.env.example` menjadi `.env`).
- Edit file `.env` dan perbarui detail koneksi database:
- `DB_CONNECTION=mysql`
- `DB_HOST=localhost` (atau alamat host database yang diberikan oleh penyedia hosting Anda)
- `DB_PORT=3306`
- `DB_DATABASE=nama_database_anda`
- `DB_USERNAME=username_database_anda`
- `DB_PASSWORD=password_database_anda`
- Jika Anda menggunakan Artisan CLI untuk migrasi database, Anda mungkin perlu mengunggah skrip PHP yang menjalankan perintah Artisan atau menjalankan perintah tersebut melalui terminal SSH jika diizinkan oleh penyedia hosting Anda.
5. Konfigurasi File .htaccess
File `.htaccess` sangat penting untuk mengarahkan semua permintaan ke file `index.php` di folder `public` Laravel, serta untuk menangani routing.
- Di File Manager, navigasikan ke direktori `public_html` (atau direktori root domain Anda).
- Pastikan file `.htaccess` ada. Jika tidak, Anda mungkin perlu membuatnya.
- Edit file `.htaccess` dan tambahkan atau pastikan konfigurasi berikut ada:
<IfModule mod_rewrite.c>
RewriteEngine On
RewriteRule ^(.*)$ public/$1
</IfModule>
<IfModule mod_rewrite.c>
RewriteEngine On
RewriteCond %REQUEST_FILENAME !-d
RewriteCond %REQUEST_FILENAME !-f
RewriteRule ^ index.php
</IfModule>
Perlu diingat bahwa konfigurasi `.htaccess` yang tepat sangat bergantung pada struktur direktori tempat Anda menempatkan file Laravel.
6. Lakukan Pengujian
Setelah semua langkah di atas selesai, buka browser Anda dan akses nama domain Anda. Jika semuanya dikonfigurasi dengan benar, Anda akan melihat aplikasi Laravel Anda berjalan.
Jika Anda menemui error, periksa kembali:
- Konfigurasi database di file `.env`.
- Struktur file dan folder yang diunggah.
- Konfigurasi `.htaccess`.
- Izin akses file dan folder (biasanya 755 untuk folder dan 644 untuk file).
Langkah-Langkah Deploy Laravel di Plesk
Proses deployment Laravel di Plesk memiliki prinsip yang sama dengan cPanel, namun antarmuka dan beberapa langkah navigasinya sedikit berbeda.
1. Akses Panel Plesk Anda
Login ke akun Plesk Anda menggunakan URL dan kredensial yang diberikan oleh penyedia hosting Anda. Dashboard Plesk biasanya menawarkan tampilan yang lebih bersih dan terorganisir.
2. Mengatur Struktur Direktori untuk Laravel
Plesk seringkali memiliki struktur direktori yang sedikit berbeda. Untuk Laravel, praktik terbaik adalah menempatkan file inti Laravel di luar direktori web utama (misalnya `httpdocs`) dan hanya menempatkan isi dari folder `public` Laravel di `httpdocs`.
Anda bisa membuat sebuah folder baru di direktori home Anda (misalnya, `laravel_project`), lalu pindahkan semua file dan folder Laravel (kecuali folder `public`) ke dalamnya.
3. Mengedit File `index.php`
Ini adalah langkah krusial untuk memastikan Laravel dapat menemukan file-file utamanya.
- Di Plesk, navigasikan ke direktori `httpdocs` domain Anda menggunakan File Manager.
- Jika Anda belum memindahkan isi folder `public` Laravel ke sini, lakukan sekarang.
- Temukan file `index.php` di dalam `httpdocs` dan edit file tersebut.
- Cari baris yang memuat `autoload.php` dan `bootstrap/app.php`. Anda perlu menyesuaikan path agar mengarah ke lokasi file Laravel Anda yang sebenarnya.
- Misalnya, jika Anda menempatkan folder `laravel_project` di direktori home Anda, Anda mungkin perlu mengubahnya menjadi seperti ini:
require __DIR__.'/../laravel_project/vendor/autoload.php';
$app = require_once __DIR__.'/../laravel_project/bootstrap/app.php';
$app->bind('path.public', function()
return __DIR__;
);
4. Konfigurasi Database di Plesk
Sama seperti cPanel, Anda perlu membuat database dan pengguna database di Plesk.
- Di Plesk, navigasikan ke bagian "Databases".
- Buat database baru, berikan nama, pilih tipe database (misalnya MySQL), dan buat pengguna baru beserta passwordnya. Catat detailnya.
- Edit file `.env` di root direktori aplikasi Laravel Anda (yang berada di luar `httpdocs`) dan masukkan detail database yang baru saja Anda buat.
5. Mengunggah dan Mengekstrak File Laravel
Anda bisa menggunakan File Manager di Plesk untuk mengunggah file Laravel Anda.
- Kompres seluruh proyek Laravel Anda menjadi file zip, *kecuali* folder `public`.
- Unggah file zip ini ke direktori home Anda atau direktori lain yang sesuai di Plesk.
- Setelah terunggah, ekstrak file zip tersebut.
- Pindahkan isi dari folder `public` Laravel ke dalam direktori `httpdocs` domain Anda.
Jika Anda tidak memiliki akses SSH, ini adalah cara paling umum untuk melakukannya. Alternatifnya, Anda bisa menggunakan fitur "Add Application" di Plesk jika tersedia untuk instalasi Laravel yang lebih terotomatisasi.
6. Mengonfigurasi Apache/Nginx (.htaccess atau Konfigurasi Server)
Plesk juga menggunakan file `.htaccess` untuk konfigurasi Apache. Jika server Anda menggunakan Nginx, konfigurasinya akan berbeda dan mungkin memerlukan penyesuaian melalui pengaturan server.
- Pastikan file `.htaccess` di `httpdocs` sudah dikonfigurasi dengan benar untuk mengarahkan semua permintaan ke `index.php` yang telah Anda edit.
- Konfigurasi `.htaccess` di `httpdocs` akan mirip dengan yang dijelaskan untuk cPanel, mengarah ke `index.php` yang kemudian akan memuat Laravel dari direktori luar.
7. Lakukan Pengujian
Akses domain Anda di browser. Periksa apakah aplikasi Laravel Anda berfungsi dengan baik. Jika ada error, kembali ke langkah-langkah sebelumnya untuk memeriksa konfigurasi database, path di `index.php`, dan file `.htaccess`.
Membandingkan cPanel vs Plesk untuk Deployment Laravel
Baik cPanel maupun Plesk adalah alat yang sangat baik untuk mengelola hosting dan melakukan deployment aplikasi Laravel. Pilihan antara keduanya seringkali bergantung pada preferensi pribadi dan fitur spesifik yang ditawarkan oleh penyedia hosting.
cPanel: Kesederhanaan dan Komunitas Luas
cPanel terkenal dengan antarmukanya yang lugas dan mudah dipelajari. Komunitas penggunanya sangat besar, yang berarti mudah menemukan tutorial, forum, dan bantuan jika Anda mengalami masalah. Bagi developer yang baru memulai atau lebih menyukai pendekatan yang teruji dan terbukti, cPanel adalah pilihan yang solid.
Plesk: Modernitas dan Fleksibilitas
Plesk seringkali menawarkan antarmuka yang lebih modern dan bersih. Dukungannya untuk berbagai sistem operasi (termasuk Windows) dan fitur-fitur yang lebih terintegrasi (seperti manajemen Docker dan Git) membuatnya menjadi pilihan yang menarik bagi developer yang mencari fleksibilitas lebih. Plesk juga sangat baik dalam mengelola banyak website atau klien dalam satu panel.
Secara fungsionalitas untuk deployment Laravel, keduanya mampu melakukan pekerjaan dengan baik. Perbedaan utama terletak pada pengalaman pengguna dan fitur tambahan yang mungkin lebih relevan bagi sebagian developer.
Tips Tambahan untuk Deployment Laravel yang Sukses
Selain langkah-langkah dasar, ada beberapa praktik terbaik yang dapat Anda terapkan untuk memastikan deployment Laravel Anda berjalan lancar dan aplikasi Anda berkinerja optimal.
1. Gunakan Git untuk Version Control
Selalu gunakan Git untuk mengelola kode sumber Anda. Ini tidak hanya membantu dalam kolaborasi tim tetapi juga memudahkan proses deployment. Anda dapat menggunakan Git untuk menarik (pull) kode terbaru langsung ke server hosting (jika diizinkan dan dikonfigurasi dengan benar) atau untuk membandingkan versi kode.
2. Optimalkan Kinerja Aplikasi
Setelah aplikasi di-deploy, jangan lupakan optimasi kinerja. Ini meliputi:
- Cache: Gunakan fitur caching Laravel (`php artisan config:cache`, `php artisan route:cache`, `php artisan view:cache`) untuk mempercepat waktu respons.
- CDN: Pertimbangkan penggunaan Content Delivery Network (CDN) untuk menyajikan aset statis (CSS, JS, gambar) dari server yang lebih dekat dengan pengguna.
- Kompresi Aset: Pastikan file CSS, JavaScript, dan gambar Anda terkompresi dengan baik.
- Optimasi Database: Pastikan query database Anda efisien dan indeks database terkonfigurasi dengan benar.
3. Amankan Aplikasi Anda
Keamanan adalah prioritas utama.
- SSL/TLS: Pastikan website Anda menggunakan HTTPS dengan menginstal sertifikat SSL/TLS. Baik cPanel maupun Plesk memudahkan proses ini.
- Perbarui Dependensi: Selalu perbarui dependensi Laravel dan paket Composer Anda ke versi terbaru yang stabil.
- Konfigurasi `.env` yang Aman: Jangan pernah menyimpan informasi sensitif seperti password database langsung di dalam kode yang di-commit ke Git.
4. Gunakan Environment Variables
File `.env` adalah cara standar Laravel untuk mengelola konfigurasi spesifik lingkungan. Pastikan Anda mengonfigurasi file ini dengan benar untuk server produksi Anda, termasuk detail database, kunci aplikasi, dan pengaturan lainnya.
5. Lakukan Backup Rutin
Sebelum melakukan perubahan besar atau bahkan secara rutin, pastikan Anda memiliki backup penuh dari file website dan database Anda. Baik cPanel maupun Plesk menyediakan fitur backup yang mudah digunakan.
Kesimpulan
Melakukan deployment aplikasi Laravel ke server hosting kini menjadi lebih mudah berkat adanya control panel seperti cPanel dan Plesk. Kedua platform ini menyediakan alat yang ampuh untuk mengelola file, database, dan konfigurasi server, memungkinkan Anda membawa aplikasi web Anda dari tahap pengembangan ke tahap live dengan efisien.
Pilih platform yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan Anda, terapkan praktik terbaik dalam pengembangan dan optimasi, serta selalu utamakan keamanan. Dengan panduan ini, Anda siap untuk meluncurkan aplikasi Laravel Anda ke dunia maya.
Bagikan artikel ini kepada rekan developer Anda yang mungkin sedang mencari cara efektif untuk deploy Laravel!
FAQ Seputar Deployment Laravel
Berapa biaya umum untuk hosting dan domain agar bisa deploy Laravel?
Biaya hosting dan domain sangat bervariasi tergantung pada spesifikasi paket, penyedia, dan jenis hosting (shared, VPS, dedicated). Untuk shared hosting yang cocok bagi pemula, Anda bisa menemukan paket mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah per bulan. Domain sendiri biasanya berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per tahun.
Tools apa saja yang direkomendasikan untuk membantu proses deployment?
Selain cPanel dan Plesk, tools seperti Git sangat direkomendasikan untuk version control. Untuk otomatisasi deployment yang lebih canggih, Anda bisa mempertimbangkan alat seperti Deployer, Envoyer, atau menggunakan fitur CI/CD dari platform seperti GitHub Actions atau GitLab CI.
Apakah website Laravel harus menggunakan SSL?
Ya, sangat disarankan. Menggunakan SSL (HTTPS) sangat penting untuk keamanan data pengguna, membangun kepercayaan, dan juga merupakan faktor positif untuk SEO. Hampir semua penyedia hosting modern menyediakan sertifikat SSL gratis (seperti Let's Encrypt) yang dapat diinstal dengan mudah melalui cPanel atau Plesk.