Memuat...
👋 Selamat Pagi!

Performa Website Stabil Tingkatkan Pengalaman Pengguna

Pernahkah Anda sedang asyik membaca artikel di ponsel, lalu tiba-tiba seluruh tampilan halaman bergeser tak karuan? Rasanya pasti menjengkelkan, bukan? Pergese...

Performa Website Stabil Tingkatkan Pengalaman Pengguna

Pernahkah Anda sedang asyik membaca artikel di ponsel, lalu tiba-tiba seluruh tampilan halaman bergeser tak karuan? Rasanya pasti menjengkelkan, bukan? Pergeseran layout yang tiba-tiba ini bukan hanya mengganggu, tetapi juga bisa membuat Anda salah klik atau bahkan kehilangan fokus pada informasi yang sedang dicari. Dalam dunia digital, pengalaman pengguna (UX) adalah raja. Salah satu elemen krusial yang memengaruhi UX ini adalah Cumulative Layout Shift (CLS). Memahami dan mengoptimalkan CLS adalah kunci untuk menciptakan situs web yang tidak hanya disukai pengunjung, tetapi juga ramah di mata mesin pencari.

Apa Itu Cumulative Layout Shift (CLS) dan Mengapa Penting?

Cumulative Layout Shift atau CLS adalah metrik yang mengukur seberapa sering pengguna mengalami pergeseran elemen visual yang tidak terduga di halaman web saat ia dimuat. Bayangkan saja, Anda sedang menunggu sebuah gambar muncul, lalu tiba-tiba iklan muncul di atasnya dan mendorong semua teks yang sedang Anda baca ke bawah. Itulah contoh CLS yang buruk.

CLS merupakan bagian dari Core Web Vitals (CWV) Google, sebuah set metrik yang dirancang untuk mengukur pengalaman pengguna langsung di dunia nyata. Google menggunakan CWV untuk menilai kualitas pengalaman yang diberikan oleh sebuah halaman web. Jika CLS Anda buruk, ini menandakan bahwa halaman Anda tidak stabil secara visual. Hal ini tidak hanya membuat pengguna frustrasi, tetapi juga dapat berdampak negatif pada peringkat SEO Anda.

Mengapa stabilitas visual begitu penting? Pengguna mengharapkan konten yang mereka lihat tetap pada tempatnya. Pergeseran yang tiba-tiba dapat menyebabkan:

  • Kesalahan saat berinteraksi, seperti salah mengklik tombol atau tautan.
  • Kehilangan fokus pada informasi penting.
  • Rasa frustrasi dan ketidakpercayaan terhadap situs web.
  • Peningkatan angka pentalan (bounce rate) karena pengguna meninggalkan situs.

Dalam jangka panjang, pengalaman pengguna yang buruk akan membuat pengunjung enggan kembali, yang tentu saja merugikan bisnis online Anda.

Bagaimana Cara Mengukur CLS?

Untuk mengetahui seberapa baik atau buruk CLS situs web Anda, Anda perlu mengukurnya. Untungnya, ada beberapa alat yang bisa Anda gunakan:

Menggunakan Google PageSpeed Insights

Ini adalah alat gratis dari Google yang sangat direkomendasikan. Ikuti langkah-langkah ini:

  1. Buka Google PageSpeed Insights di browser Anda.
  2. Masukkan URL halaman web yang ingin Anda uji di kolom yang tersedia.
  3. Klik tombol "Analyze" atau "Analisis".
  4. Tunggu hingga alat selesai memproses dan menampilkan hasilnya.
  5. Cari bagian "Core Web Vitals" dan perhatikan skor CLS Anda.

PageSpeed Insights akan memberikan skor CLS, serta saran untuk memperbaikinya. Penting untuk diingat, untuk hasil pengukuran yang lebih akurat, lakukan pengujian dalam mode penyamaran (incognito) untuk menghindari cache browser atau ekstensi yang mungkin memengaruhi hasil.

Alat Lainnya

Selain PageSpeed Insights, ada juga alat lain seperti:

  • Lighthouse (terintegrasi di Chrome DevTools).
  • WebPageTest.
  • GTmetrix.

Alat-alat ini juga memberikan gambaran yang baik tentang performa CLS situs Anda, seringkali dengan data yang lebih mendalam.

Berapa Skor CLS yang Baik untuk SEO?

Skor CLS diukur dalam nilai desimal. Semakin kecil nilainya, semakin baik. Google menetapkan ambang batas untuk skor CLS yang baik:

  • 0.1 atau lebih rendah: Dianggap baik. Menunjukkan bahwa halaman memiliki sedikit atau tanpa pergeseran layout yang terlihat.
  • 0.1 hingga 0.25: Membutuhkan perbaikan. Halaman mengalami beberapa pergeseran layout yang dapat dirasakan pengguna.
  • 0.25 atau lebih tinggi: Buruk. Halaman mengalami pergeseran layout yang signifikan dan mengganggu pengalaman pengguna.

Untuk mendapatkan skor CWV yang baik, setidaknya 75% dari semua kunjungan halaman di situs Anda harus memiliki skor CLS 0.1 atau lebih rendah. Ini berarti Anda perlu memastikan sebagian besar halaman Anda memberikan pengalaman visual yang stabil.

Penyebab Umum Skor CLS yang Buruk

Banyak faktor yang dapat berkontribusi pada skor CLS yang buruk. Mengenali akar masalahnya adalah langkah pertama untuk memperbaikinya. Berikut adalah beberapa penyebab paling umum:

1. Gambar Tanpa Dimensi yang Ditetapkan

Ketika sebuah gambar dimuat tanpa atribut `width` dan `height` yang jelas, browser akan memuat konten lain terlebih dahulu, lalu baru menampilkan gambar. Saat gambar akhirnya dimuat, ukurannya akan menentukan ruang yang dibutuhkan, sehingga mendorong elemen di bawahnya. Ini adalah penyebab CLS yang sangat umum.

2. Iklan dan Konten Dinamis yang Muncul Tiba-tiba

Iklan, pop-up, atau elemen konten dinamis lainnya yang disuntikkan ke dalam halaman setelah konten utama dimuat dapat menyebabkan pergeseran layout yang signifikan. Jika ruang yang cukup tidak dialokasikan untuk elemen-elemen ini sebelumnya, mereka akan mendorong konten lain.

3. Font Web yang Memuat Terlambat

Saat Anda menggunakan font kustom (font web), browser mungkin akan menampilkan teks dengan font fallback sementara (font sistem) sebelum font kustom selesai dimuat. Ketika font kustom akhirnya dimuat, ukuran teksnya mungkin berbeda dari font fallback, menyebabkan pergeseran layout. Ini dikenal sebagai Flash of Unstyled Text (FOUT) atau Flash of Invisible Text (FOIT).

4. Embed dan Iframe yang Tidak Memiliki Ukuran

Sama seperti gambar, elemen seperti video YouTube yang disematkan atau iframe lainnya yang tidak memiliki dimensi yang ditetapkan dapat menyebabkan pergeseran layout saat dimuat dan kontennya ditampilkan.

5. Animasi yang Tidak Efisien

Animasi yang mengubah properti seperti `width`, `height`, `top`, `left`, atau `margin` dapat memicu reflow dan repaint halaman, yang pada gilirannya menyebabkan pergeseran layout. Animasi yang memanipulasi properti `transform` atau `opacity` umumnya lebih aman karena tidak memicu reflow.

6. Konten yang Disuntikkan Melalui JavaScript

JavaScript yang menambahkan konten ke DOM (Document Object Model) setelah halaman utama dimuat tanpa reservasi ruang sebelumnya akan menyebabkan pergeseran layout.

Cara Efektif Meningkatkan Skor CLS

Setelah memahami penyebabnya, saatnya kita mencari solusinya. Mengoptimalkan CLS bukan hanya tentang performa teknis, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman yang mulus bagi pengguna.

1. Tetapkan Dimensi untuk Gambar dan Video

Ini adalah langkah paling fundamental dan paling berdampak. Selalu tentukan atribut `width` dan `height` untuk semua elemen gambar dan video. Ini memberi tahu browser berapa banyak ruang yang harus dialokasikan untuk elemen tersebut sebelum mereka dimuat sepenuhnya.

Contoh:

<img src="gambar-anda.jpg" width="600" height="400" alt="Deskripsi Gambar">

Jika Anda menggunakan CSS untuk mengatur ukuran gambar agar responsif, Anda masih perlu menentukan rasio aspeknya. Gunakan properti `aspect-ratio` dalam CSS untuk menjaga proporsi.

Contoh CSS untuk gambar responsif dengan rasio aspek:

.responsive-image
aspect-ratio: 16 / 9; /* Sesuaikan dengan rasio gambar Anda */
width: 100%;
height: auto;

2. Alokasikan Ruang untuk Konten Dinamis (Iklan, Embed)

Untuk elemen yang ukurannya bisa berubah atau dimuat secara dinamis seperti iklan, widget media sosial, atau banner, Anda harus mengalokasikan ruang yang cukup di layout sebelum elemen tersebut dimuat. Ini bisa dilakukan dengan menambahkan elemen placeholder (misalnya, elemen `div`) dengan dimensi yang telah ditentukan.

Contoh:

<div id="iklan-placeholder" style="width: 728px; height: 90px;"></div>

Kemudian, saat iklan dimuat, ia akan mengisi ruang yang sudah disiapkan tanpa mendorong elemen lain.

3. Optimalkan Pemuatan Font Web

Untuk font web, gunakanlah teknik preload untuk font-font penting yang akan digunakan di bagian atas halaman. Selain itu, atur properti `font-display` pada aturan `@font-face` Anda.

Nilai `font-display: swap;` adalah pilihan yang baik. Ini akan menampilkan teks dengan font fallback sementara sambil menunggu font kustom dimuat, lalu menggantinya setelah siap. Ini mencegah FOUT dan mengurangi potensi pergeseran.

Contoh:

<link rel="preload" href="font/myfont.woff2" as="font" type="font/woff2" crossorigin>

@font-face
font-family: 'MyCustomFont';
src: url('font/myfont.woff2') format('woff2');
font-display: swap;

Hindari `font-display: optional;` jika Anda sangat membutuhkan font kustom Anda segera, karena ini akan menggunakan font fallback jika font kustom tidak dimuat dalam waktu yang sangat singkat.

4. Hindari Menambahkan Konten di Atas Konten yang Sudah Ada

Jika memungkinkan, jangan pernah menyuntikkan konten baru (misalnya, banner promosi) di bagian atas konten yang sedang dilihat pengguna. Jika Anda perlu menambahkan elemen baru, pastikan ia muncul di akhir bagian yang sedang dibaca atau di bagian bawah halaman.

Contohnya, jika pengguna sedang membaca paragraf ke-5, jangan tampilkan pop-up di atasnya. Tampilkan setelah paragraf ke-10, atau saat pengguna menggulir ke bawah.

5. Gunakan Transformasi CSS untuk Animasi

Untuk animasi yang ingin Anda terapkan, utamakan penggunaan properti CSS `transform` (seperti `scale()`, `rotate()`, `translate()`) dan `opacity`. Properti ini dijalankan di layer terpisah oleh browser dan tidak memicu reflow atau repaint seluruh halaman, sehingga tidak menyebabkan pergeseran layout.

Contoh:

.element-animate
transition: transform 0.3s ease-in-out;

.element-animate:hover
transform: scale(1.1);

Hindari animasi yang mengubah `margin`, `padding`, `width`, `height`, `top`, atau `left`, karena ini cenderung memicu pergeseran layout.

6. Hapus atau Minimalkan Penggunaan Font Dinamis yang Tidak Perlu

Jika Anda menggunakan banyak font dari sumber eksternal atau font yang tidak esensial, pertimbangkan untuk menghapusnya. Semakin sedikit font yang perlu dimuat, semakin kecil kemungkinan terjadinya masalah CLS terkait font.

7. Optimalkan Pemuatan JavaScript

JavaScript yang berjalan lambat atau memanipulasi DOM secara agresif bisa menjadi penyebab CLS. Pastikan kode JavaScript Anda efisien, dimuat secara asinkron (`async` atau `defer`), dan hanya memanipulasi DOM jika benar-benar diperlukan, dengan mempertimbangkan alokasi ruang.

8. Gunakan Placeholder untuk Konten Tertentu

Selain iklan, konten seperti tweet yang disematkan, peta Google, atau bahkan gambar yang dimuat dari CDN pihak ketiga juga bisa menyebabkan pergeseran. Selalu berikan placeholder dengan ukuran yang jelas untuk elemen-elemen ini.

Kesimpulan

Cumulative Layout Shift (CLS) adalah metrik penting yang secara langsung memengaruhi pengalaman pengguna dan performa SEO situs web Anda. Dengan mengidentifikasi dan memperbaiki penyebab umum CLS seperti gambar tanpa dimensi, iklan yang muncul tiba-tiba, dan pemuatan font yang lambat, Anda dapat menciptakan situs web yang lebih stabil dan nyaman untuk dikunjungi. Mengoptimalkan CLS bukan hanya tentang skor teknis, tetapi investasi nyata untuk kepuasan pengguna dan kesuksesan jangka panjang bisnis online Anda. Mulailah menerapkan langkah-langkah di atas dan rasakan perbedaannya.

FAQ (Pertanyaan Sering Diajukan)

1. Apa dampak CLS yang buruk pada bisnis online?

CLS yang buruk dapat meningkatkan tingkat pentalan (bounce rate) karena pengguna frustrasi, mengurangi waktu yang dihabiskan di situs, dan membuat calon pelanggan enggan melakukan konversi (misalnya, membeli produk atau mengisi formulir). Ini juga bisa menurunkan peringkat Anda di hasil pencarian Google.

2. Apakah CLS hanya relevan untuk website desktop?

Tidak. CLS sangat relevan, bahkan lebih penting, untuk pengalaman pengguna di perangkat seluler. Pengguna seluler seringkali lebih sensitif terhadap pergeseran layout karena keterbatasan layar dan kecepatan koneksi yang bervariasi.

3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasil perbaikan CLS?

Perbaikan CLS biasanya dapat terlihat dalam waktu beberapa hari hingga minggu setelah Anda menerapkan optimasi. Namun, pastikan Anda terus memantau skor CLS Anda menggunakan alat seperti PageSpeed Insights atau Search Console untuk memastikan perubahan yang Anda lakukan efektif dan berkelanjutan.

Ajie Kusumadhany
Written by

Ajie Kusumadhany

admin

Founder & Lead Developer KerjaKode. Berpengalaman dalam pengembangan web modern dengan Laravel, Vue.js, dan teknologi terkini. Passionate tentang coding, teknologi, dan berbagi pengetahuan melalui artikel.

Promo Spesial Hari Ini!

10% DISKON

Promo berakhir dalam:

00 Jam
:
00 Menit
:
00 Detik
Klaim Promo Sekarang!

*Promo berlaku untuk order hari ini

0
User Online
Halo! 👋
Kerjakode Support Online
×

👋 Hai! Pilih layanan yang kamu butuhkan:

Chat WhatsApp Sekarang